05:28:37 - 06.09.2010

LOGIN ANGGOTA






Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Home arrow Artikel arrow Sejarah arrow Puyang Awak, Penyebar ajaran Agama Islam di Jagat Besemah
Puyang Awak, Penyebar ajaran Agama Islam di Jagat Besemah PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Jeme Kite   
 
Perkiraan tahun 1479, datanglah seorang mubaligh dari Pulau Jawa / Mataram Kuno menyeberang ke Pulau Sumatera lewat tanah Banten dengan menggunakan sebuah rakit yang terbuat dari pelepah kelapa, menginjakan kakinya pertama kali di ujung paling selatan pulau Sumatera, tepatnya di daerah Tanjung Tua (sekarang hanya beberapa meter saja dari Menara Suar Tanjung Tua).  Beliau berjalan kaki singgah di daerah Komering  menuju ke Palembang, singgah pula di daerah Enim terus menelusuri aliran sungai Lematang dan tiba di desa Perdipe yang terletak di tepian sungai Lematang wilayah tanah Besemah.

Di tanah Besemah, beliau menyebut dirinya Baharuddin, sedangkan sebutan Puyang Awak adalah sebutan yang diberikan masyarakat Besemah sebagai ungkapan penghormatan tertinggi yang diberikan kepada Beliau.

Pertama kali Puyang Awak sampai di desa Perdipe dan menetap disana, Beliau beradaptasi sekaligus mempelajari bahasa dan pola hidup serta keyakinan yang ada di tanah Besemah waktu itu. Keberadaan Beliau pertama kali tidak menunjukan citra bahwa Beliau adalah seorang Mubaligh yang bertujuan menyebarkan ajaran baru bagi masyarakat. Di desa Perdipe ini, beliau menumpang hidup pada suatu keluarga sambil membantu pekerjaan dalam keluarga itu, serta membantu pula terhadap siapa saja yang membutuhkan bantuan. Oleh karena sikap Beliau yang suka membantu tersebut, dalam tempo relatif singkat Beliau sudah cukup dikenal oleh sebagian masyarakat.

Sikap yang ditunjukan oleh Baharuddin terhadap semua lapisan masyarakat, besar kecil, tua muda, laki-laki perempuan, miskin atau kaya, jelas sangat berbeda dengan prilaku atau sikap hidup masyarakat Besemah pada waktu itu, dimana ego dan ambisi begitu menonjol diantara kelompok masyarakat yang terbagi dalam 6 anak suku yakni Penjalang, Semidang, Sumbai Besar, Mangku Anom, Ulu Lurah dan Tanjung Raye. Setiap suku merasa bahwa suku merekalah yang terbaik, sehingga seringkali terjadi pertikaian. Karena sikap Beliau yang berbeda atau menyolok tersebutlah sehingga nama Beliau begitu cepat terkenal dan populer di kalangan masyarakat Besemah. (sikap yang mampu mengambil hati masyarakat banyak).

Perbuatan yang dilakukan Beliau tersebut, sebenarnya bukanlah perbuatan yang besar, melainkan hanya tindakan kecil yang kelihatannya sepele namun menyentuh hati masyarakat, misalnya : Suatu ketika Baharuddin mendengar beberapa orang perempuan yang berbicara sewaktu mereka memasak untuk suatu acara perkawinan, mereka kesulitan memperoleh daun pisang yang diperlukan untuk memasak, daun pisang habis semua, sedangkan untuk meminta bantuan kepada laki-laki adalah tidak mungkin karena dianggap tabu bila laki-laki mengerjakan pekerjaan perempuan (Gaweh Betine). Mendengar keluh kesah para ibu tersebut, tanpa memberitahu apapun, Baharuddin langsung mengambil daun pisang yang tumbuh liar di hutan. Perbuatan Baharuddin tersebut menjadi perhatian masyarakat karena tidak lazim dilakukan oleh seorang laki-laki. Bagi kaum laki-laki, pemandangan seperti itu dianggap “memalukan” karena tidak menjaga martabat laki-laki. Lain halnya dengan para ibu yang merasa sangat dihargai dan diperhatikan oleh beliau, sehingga menorekan kesan yang mendalam dan harkat kemanuasiaan kaum ibu sedikit terangkat.

Peristiwa lain dari sikap dan prilaku Baharuddin, suatu ketika Beliau mendengar seorang ibu yang sedang hamil muda, mengidam ingin sekali maka buah petai, padahal waktu petai sedang tidak musim berbuah. Entah dari mana dapatnya, setelah bepergian sebentar Baharuddin sudah datang membawa petai yang sedang ranum dan langsung diberikan kepada ibu yang sedang ngidam tersebut. Peristiwa inipun menjadi buah bibir, yang pada pokoknya Beliau selalu datang dengan tanpa diminta untuk memberikan bantuan. Walaupun bantuan itu kecil kwalitasnya namun besar akan nilainya. Lama kelamaan nama Baharuddin begitu populer dikalangan masyarakat desa Perdipe dan menyebar ke desa lainnya.

Diantara warga Besemah pada waktu itu, ada seorang tokoh yang sangat disegani dan ditakuti karena banyak nyawa melayang ditangannya, budak-budaknyapun ratusan yang diperolehnya ketika memenangkan pertarungan. Tokoh itu bernama Kejabang dari anak suku Semidang (Puyang Kejabang). Kejabang rupanya tidak senang mendengar kepopuleran nama Baharuddin, padahal hanya pendatang. Kejabang lalu bermaksud menjadikan Baharuddin sebagai budaknya. Untuk itu Kejabang menyampaikan tantangan bertarung pada Baharuddin, dengan ketentuan apabila Baharuddin menolak untuk berkelahi atau kalah maka harus menjadi budaknya Kejabang. Sebaliknya bila Baharuddin menerima dan dapat mengalahkan Kejabang, maka Kejabang dan anggota keluarganya berikut semua budaknya, akan menjadi budaknya Baharuddin.


 
< Sebelumnya   Berikutnya >