03:57:52 - 06.09.2010

LOGIN ANGGOTA






Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Home arrow Berita arrow Seputar Pagaralam arrow Wow! Ada Kampung Megalit di Pajar Bulan
Wow! Ada Kampung Megalit di Pajar Bulan PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Ahmad Mujib   
PAGARALAM — Kawasan Lahat dan Pagaralam kembali membuktikan sebagai daerah purbakala. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3 Jambi) wilayah kerja Jambi, Sumsel, Bengkulu dan Babel menemukan kampung megalit di Desa Skendal Kecamatan Pajar Bulan, Kabupaten Lahat, Minggu (14/2).

Di kampung itu terdapat 36 batu jenis situs di atas lahan sekitar 2 hektare. Jaraknya sekitar 10 kilometer dari Kota Pagaralam. Keberadaan kompleks megalit ini berada di tengah perkebunan kopi. Atau sekitar 10 menit bila ditempuh dengan berjalan kaki.

Jalan menuju lokasi megalit itu hanya berupa jalan setapak yang biasanya hanya digunakan warga setempat untuk berkebun. Untuk menjaga lingkungan megalit tersebut sudah dipagar. Selain itu juga sudah disiapkan juru kunci dari BP3 Jambi dan Sumsel.

Bentuk megalit yang ditemkan berupa lesung, arca batu ibu menggendong anak naik gajah, manusia digigit buaya, dan beberapa tempat pemujaan.

Menurut juru kunci kompleks megalit, Arlan, hanya dua lokasi kebun kopi yang hampir sebagian besar permukaannya ditemukan bebatuan.

Staf BP# Jambi Akhmad Rivai mengatakan, banyak megalit arca atau peninggalan bersejarah tersebar di Lahat dan Pagaralam. Namun untuk daerah yang paling banyak dan berada di satu lokasi baru di daerah Desa Skendal Kecamatan Pajar Bulan ini.

Keberadaan megalit yang terpusat di satu lahan ini menandakan daerah itu dulunya merupakan perkampungan nenek moyang kita. Sebab selain arca dan ada juga berberapa bangunan batu yang menjadi tempat pemujaan,” ungkap dia. 

Sebenarnya cukup banyak peninggalan bersejarah yang sudah ditemukan di kedua daerah itu seperti situs kubur batu. Misal, berbentuk bangunan rumah batu di areal perkebunan kopi Desa

Talang Pagarangung, Kecamatan Pajar Bulan, arca manusia dililit ular Tanjung Aro Pagaralam, 15 rumah batu, lumpang batu, lesung batu, menhir, dolmen dan masih banyak yang lainnya.   

Sebagian besar situs atau peninggalan bersejarah tersebut diperkirakan dibuat pada zaman purbakala atau berumur sekitar 4000-5000 Sebelum Masehi (SM), termasuk yang berada di kampung megalit,” ungkapnya.

Berbagai benda yang ditemukan dari hasil penggalian diamankan pemerintah setempat, sebelum dilakukan penelitian lebih lanjut dari BP3 Jambi membawahi Sumsel.

Meskipun ada penemuan situs itu tapi untuk memastikan berbagai makna dan benda yang ditemukan tersebut masih harus dilakukan penelitian dari Balai Arkeologi. Kami akan menurunkan tim pengawasan untuk pengamanan situs bersejarah itu, namun untuk mengetahui umur dan apa jenis benda-benda yang berhasil ditemukan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut,”ungkapnya
 
Turun-Temurun Jaga Megalitik
 

SUDAH 10 tahun Ahlan (43) warga Desa Skendal Kecamatan Pajar Bulan Kabupaten Pagaralam, menjaga dan merawat batu megalitik berusia ratusan tahun di kebun kopi miliknya. Namun hingga kini bapak dari dua anak ini belum mendapatkan kepastian statusnya di BP3 Wilayah Sumbagsel.

Suami dari Rasmiyati (36) ini, hanya mengandalkan kebun kopi seluas satu hektare miliknya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Ditengah harga kebutuhan terus-menerus naik, ia berusaha mencari upahan guna memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.

Kepada Sripo yang menemuinya, Ahlan menuturkan keluh-kesahnya sebagai seorang penjaga temuan purbakala. “Sebelum saya yang menjaga, ayah serta nenek saya yang menjaganya. Oleh karena sekarang dia sudah tua dan tidak sanggup lagi memandu kalau ada yang datang, saya yang menggantikannya. Sudah turun temurun keluarga yang menjaganya,” ujarnya.

Pekerjaannya sebagai penjaga megalitik hanya sebagai pekerjaan sambilan untuk menjalankan amanat yang turun-temurun. Ditambah lagi ia memang sudah diangkat oleh pihak BP3 untuk menjaga dan merawatnya.

Gaji yang saya terima untuk merawat dan menjaganya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan kami. Saya tidak bisa memfokuskan untuk merawatnya, perawatan yang saya lakukan hanya pada saat memiliki waktu luang terutama dan pada saat ke memeriksa kebun,” katanya.

Untuk membiayai pendidikan dua anak dan kebutuhan keluarganya, dirinya tidak bisa hanya mengandalkan gajinya dari BP3. Ia terpaksa mencari pekerjaan sambilan. Ditambah lagi dirinya tidak memiliki lahan sawah sehingga beras harus dibeli dari hasil upahan sehari-hari yang hanya Rp 15-20 ribu.

Saya mau saja fokus menjaga dan merawatnya. Namun harus ada jaminan untuk keluarga saya, kalau tetap seperti ini, saya tidak bisa, keluarga saya mau makan, kami ini orang miskin,” ujar. sripo

 
Source : Sriwijaya Post http://www.sripoku.com
 
Komentar-Komentar (0) >>
Tulis Komentar
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Masukkan karakter tulisan diatas

busy
 
Berikutnya >