03:40:56 - 06.09.2010

LOGIN ANGGOTA






Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar

MILIS KITE



Alumni SMPN 1 PGA

Email:


JAJAK PENDAPAT

Pendapat Anda Tentang Rencana Pembentukan Kabupaten Besemah
 

CHAT BOX

Nama:

Pesan:

Home
Tambang Emas di Tebingtinggi
Ditulis Oleh Ahmad Mujib   
Tambang Emas di Tebingtinggi
Sriwijaya Post - 13 Mei 2009
http://www.sripoku.com/view/11604/Tambang-Emas-di-Tebingtinggi
 

TEBINGTINGGI, SRIPO —Setelah penemuan potensi tambang emas di kawasan Desa Talangpadang Kec Pasemah Air Keruh dan Kabupaten Seluma (Bengkulu), kini kembali ditemukan potensi tambang emas yang lebih besar di Kecamatan Tebingtinggi.

 
Cerpen Sriwijaya
Ditulis Oleh johnnie Roimansyah   

Tahun 499 Masehi. Garis katulistiwa membekas di langit. Musim penghujan. Beberapa orang sakti yang merupakan utusan dari suku Rui (Jemebesemah) yang berada di dekat gunung Dempo, suku Kun dari pesisir Timur Sumatra, dan suku Nang dari pesisir Barat Sumatra, berkumpul di bukit Siguntang, yang dikelilingi rawa-rawa namun kaya dengan sumber makanan seperti burung, ikan, kijang, babi, tumbuhan, serta aman dari berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, seperti yang sering terjadi di pesisir Barat Sumatra, pesisir Timur Sumatra, dan sekitar gunung Dempo.

Suku Rui dikenal suku yang sangat pandai berkelahi. Mereka gagah berani dan jujur. Sedangkan suku Kun dikenal sangat pandai mengatur sesuatu. Mereka sangat patuh dengan sistem, dan mereka mampu menjalankan suatu aturan nyaris sempurna.

Sementara suku Nang terkenal cerdas, ahli strategi, dan ulet. "Saya sepakat kita membentuk sebuah kerajaan. Tapi, kerajaan kita nanti harus memiliki hubungan dengan Tiongkok dan India. Sebab mereka merupakan kekuatan yang sulit kita taklukan,” kata Dapunta Hyang, perwakilan dari suku Rui.

 
Melongok Masa Lampau di Bumi Pasemah
Ditulis Oleh Alamsyah   
FILM-film fiksi buatan Hollywood banyak yang bercerita tentang perjalanan seorang tokoh ke masa lampau. Dengan menggunakan mesin waktu, seorang tokoh bisa pergi ke masa ratusan atau ribuan tahun yang lalu. Tetapi, di Kabupaten Lahat dan Pagaralam, Sumatera Selatan (Sumsel), tak perlu mesin waktu untuk kembali ke masa lampau.

ANDA bisa menikmati suasana ribuan tahun lalu, berupa batu-batu besar yang banyak bertebaran di Bumi Pasemah. Pasemah adalah sebutan untuk kawasan Lahat, termasuk Pagaralam. Pagaralam saat ini menjadi daerah otonomi tersendiri.

Di tempat ini banyak ditemukan peninggalan masa lampau, tradisi megalit atau tradisi batu besar. Banyaknya peninggalan yang tersebar di hampir semua kecamatan di Bumi Pasemah Lahat dan Pagaralam, membuat suasananya begitu kental dengan nuansa zaman batu.

Selain berbagai peninggalan tradisi megalit yang banyak tersebar di sejumlah desa, suasana pedesaan dengan kebun kopi, rumah panggung, lembah Sungai Lematang dengan beberapa tebing tegak, dan jembatan gantung sederhana, semakin menjadikan suasana masa lampau yang sering digambarkan dalam film.

Pahatan paling terkenal adalah pahatan batu yang disebut Batu Gajah. Pahatan pada batu besar (monolit) ini berasal dari Kotaraya Lembak, Kecamatan Jarai, Kabupaten Lahat, Sumsel. Batu relief ini disebut Batu Gajah karena ada pahatan berbentuk gajah pada batu tersebut.
 
Sejarah Sriwijaya Versi A Grozali
Ditulis Oleh Alamsyah   
AHMAD GROZALI Mengkerin, penulis angkatan Balai Pustaka, dengan karya tulisnya yang terkenal Syair Si Pahit Lidah, mempunyai pendapat lain tentang sejarah Sriwijaya. Pendapatnya itu tertuang dalam satu manuskrip yang disimpan oleh keluarga orang yang disapanya dengan sapaan “paman” di Palembang. Dokumentasi pribadi paman Abdullah Senibar itu patut dijadikan bahan kajian tentang sejarah Sriwijaya atau sejarah lokal Sumsel. Judul manuskrip yang ditulis oleh penulis Balai Pustaka itu adalah “Ringkasan Sedjarah Seriwidjaja Pasemah”.

Ahmad Grozali, penulis Syair Si Pahit Lidah, yang sebagai jurnalis pernah menulis artikel “Gara-gara Berdialog” itu, mengemukakan pendapatnya tentang Sriwijaya sebagai berikut.

Pada tahun 101 Syaka (bertepatan dengan tahun 179 Masehi), berlabuhlah tujuh bahtera (jung) di Pulau Seguntang. Pulau Seguntang iu adalah Bukit Seguntang yang sekarang, yaitu bukit dengan ketinggian 27 meter di atas permukaan laut, di dalam Kota Palembang.

Pada masa itu, yaitu sekitar abad kedua Masehi, daerah Sumatera Selatan ini masih merupakan bencah lebar atau rawa-rawa yang sangat luas. Hanya ada beberapa daratan yang tampak seperti terapung di atas permukaan laut. Di antara daratan yang muncul di atas permukaan laut itu adalah (1) Bukit Seguntang, sebagai apung pertama; (2) Kute Abung Bukit Serela, sebagai apung tengah; dan (3) Daratan Tinggi Tanah Besemah dengan puncaknya Gunung Dempu, sebagai apung kulon (apung barat).

Kute Abung Bukit Serela adalah Bukit Serela di Kabupaten Lahat, yang sekarang dikenal juga dengan nama Bukit Jempol. Di situ pernah ditemukan jangkar jung kuno yang berasal dari awal abad Masehi. Daerah itu dikenal juga dengan sebutan Abung Tinggi. Bukit Serela atau Bukit Jempol itu tingginya 670 meter di atas permukaan laut.
Dataran Tinggi Tanah Besemah dengan puncaknya Gunung Dempu itu adalah wilayah Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat dengan gunung tertinggi di Sumatera Selatan, yang kini dikenal dengan Gunung Dempo. Gunung Dempu (Dempo) itu sebenarnya mempunyai tiga puncak, yaitu (1) puncak belumut (Gunung Lumut), (2) puncak beghapi (Gunung Berapi), dan (3) puncak dempu (Gunung Dempu). Puncak yang tertinggi adalah puncak Dempu (Gunung Dempu), 3.173 meter di atas permukaan laut.
 
Peradaban Besemah Sebagai Pendahulu Kerajaan Sriwijaya
Ditulis Oleh johnnie Roimansyah   

 

Seminar yang berlangsung dari tanggal 27 Februari 2009 s.d 1 Maret 2009 di Kota Pagar Alam ini mengundang sejumlah ahli dan para pejabat penting, seperti gubernur dan raja di Jawa dan Bali. Sultan Iskandar Mahmud Badarudin,Raja Ida Tjokorda Ngurah Djambe Pemecutan (Raja Denpasar IX), Muslihun, Djohan Hanafiah, Drs H Hidayat Harun, Prof Dr Noerhadi Magetsari, Dr Agus Aris Munandar, Yose Rizal SS Msi, dan Dr Haris Sukendar serta 35 tokoh spiritual dan juru kunci kompleks peninggalan kerajaan Sriwijaya. Seminar ini masih menyisakan PR besar dan perlu ditindak lanjuti karena sampai seminar ini berakhir tidak ada satu pihakpun dalam seminar tersebut yang dapat menjelaskan secara pasti letak sesungguhnya Kerajaan Sriwijaya, namun bukan tidak beralasan kalau dikatakan bahwa peradaban Besemah sebagai pendahulu Kerajaan Sriwijaya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya temuan peninggalan peradaban masa lalu, berupa batu-batu besar yang berasal dari aktivitas kebudayaan megalitik, antara lain dalam bentuk ruang batu (rumah batu), kubur batu, pahatan yang membentuk lukisan dipermukaan bukit batu dan arca-arca yang tersebar ditanah Pasemah.

 
Muhammad Saman Loear dan Guritan Besemah
Ditulis Oleh johnnie Roimansyah   
Di kaki Gunung Dempo, tahun 1971, William A Collin iseng memutar kasetguritan pemberian teman barunya. Volumenya disetel agak keras. Alunanlagu itu memancing penduduk setempat berkerumun, dari semula satuorang yang menguping sampai akhirnya berjumlah puluhan. Calon doktorantropologi University of California, Los Angeles, ini heran, mengapaorang desa yang berjarak 294 km barat daya Palembang itu begitubersemangat mendengar guritan.Ia menjadi makin penasaran ketika melihat seorang ibu menangistersedu-sedu mendengar cerita dari kaset itu. Collin bertanya panjanglebar kepada Muhammad Saman Loear, teman barunya, yang tak lain adalahartis pelantun guritan tadi.
 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 13 - 18 dari 52