|
Dana Berobat Gratis di Pagaralam Rp 3,9 Miliar |
|
Ditulis Oleh Ahmad Mujib
|
|
Sriwijaya Post - 13/2/2009 18:35 WIB PAGARALAM, JUMAT - Untuk mendukung program berobat gratis di Kota Pagaralam total anggaran yang sudah dialokasikan mencapai Rp 3,9 miliar. Dengan rincian pemerintah Kota Pagaralam telah menganggarkan dana sebesar Rp 2,3 miliar dari total APBD Kota Pagaralam tahun 2009 mencapai Rp 420 miliar, dan sharing dari pemerintah provinsi sebesar Rp 1,6 miliar. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Dt H Rasidi Amri MT MKM, Jumat (13/2). Menurutnya untuk mendukung program berobat dan sekolah gratis di Kota Pagaralam, pemerintah Kota Pagaralam melalui Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) tahun 2009 telah menambah alokasi dana untuk kesehatan. Namun, jumlah dana tersebut belum diketahui cukup atau tidak untuk pembiayaan kliem dari RSD Besemah yang sudah menerapkan berobat gratis.
|
|
|
Radius 2 KM dari Dempo, Warga Dilarang Mendekat |
|
Ditulis Oleh / Dikutif dari Sripo
|
PAGARALAM, JUMAT - Pasca terjadinya peningkatan aktivitas Dempo dengan terjadinya gempa freatik dan terjadinya hujan abu per 1 Januari lalu, aktivitas Gunung Dempo masih belum menentu dan hingga sekarang ini aktivitas seperti gempa vulkanik, gempa tektonik masih terjadi. Bahkan sejak seminggu terakhir ini tercatat terjadi 66 kali embusan di Gunung Api Dempo (GAD). Masih terjadinya peningkatan aktivitas otomatis hingga sekarang ini status Dempo masih tetap waspada sehingga warga dilarang mendekati kawah gunung api Dempo dengan radius 2 kilometer. Sebab, jika terjadi kembali embusan seperti beberapa waktu lalu dapat membahayakan jiwa pendaki atau masyarakat itu sendiri karena dikhawatirkan terhirup gas beracun yang keluar dari kawah dempo.
|
|
|
Selayang Pandang dan Kilas Balik Perjuangan Rakyat di Kewedanaan Tanah Pasemah dari Zaman ke Zaman |
|
Ditulis Oleh johnnie Roimansyah
|
|
Ilustrasi menarik mengenai tempat orang-orang Basemah pernah dituliskan oleh JSG Grambreg, seorang pegawai pemerintah Hindia Belanda yang ditulisnya tahun 1865 sebagai berikut: Barang siapa yang mendaki Bukit Barisan dari arah Bengkulu. kemudian menjejakkan kaki di tanah kerajaan Palembang yang begitu luas; dan barang siapa yang melangkahkan kakinya dari arah utara Ampat Lawang (negeri empat gerbang) menuju ke dataran Lintang yang indah, sehingga ia mencapai kaki sebelah Barat Gunung Dempo, maka sudah pastilah ia di negeri orang Pasemah. Jika ia berjalan mengelilingi kaki gunung berapi itu, maka akan tibalah ia di sisi timur dataran tinggi yang luas yang menikung agak ke arah Tenggara, dan jika dari situ ia berjalan terus lebih ke arah Timur lagi hingga dataran tinggi itu berakhir pada sederetan pengunungan tempat, dari sisi itu, terbentuk perbatasan alami antara negeri Pasemah yang merdeka dan wilayah kekuasaan Hindia Belanda. Dari kutipan itu tampak bahwa saat itu wilayah Pasemah masih belum masuk dalam jajahan Hindia Belanda.
|
|
|
Andai-Andai Sebatang : JAMBU EMBAK KULAK |
|
Ditulis Oleh johnnie Roimansyah
|
|
Andai-andai adalah cerita yang sudah ada sejak zaman dahulu, Ada bermacam-macam andai-andai namun saat ini andai-andai hampir punah, hal ini dikarenakan tidak ada lagi pembawanya, salah satu andai-andai yang jika diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia sangat berlaku di Negara Republik Indonesia sekarang ini, salah satu nya JAMBU EMBAK KULAK, andai-andai ini jika dibawahkan dengan gaya bahasa Daerah yang baik sangat menarik baik pada anak-anak maupun pada orang dewasa, dengan alur cerita sebagai berikut :
|
|
|
"Jangan Pernah setori Saya" |
|
Ditulis Oleh Ahmad Mujib
|
|
Ini ade berita jeme Pagar Alam ye anti korupsi waktu masih jadi Kapolda Jabar, mbak ini pangkate la Komjen dan sebagai Kabareskrim Polri dan dang merangi para preman tentunye korupsi pule.
Mari kite belajagh lughus luk Pak Susno Duadji ni, walaupun la mapan diye dek tamak nga tuape kina.  Pikiran Rakyat, Edisi 10 Februari 2008
RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H., M.Sc., mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai tingkat polres hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke Mapolda Jabar sejak pagi karena diperintahkan demikian. Pertemuan itu baru dimulai pukul 16.00 WIB.
|
|
|
Rezeki Petani Kopi Pagar Alam Mulai Redup |
|
Ditulis Oleh Chandra Tasti
|
|
Kompas/Wisnu Aji Dewabrata Seorang petani kopi di Pagar Alam, Sumatera Selatan, menunjukkan tanaman kopi siap panen, beberapa waktu lalu. Petani kopi berharap harga kopi cukup tinggi untuk mengimbangi kenaikan harga kebutuhan pokok dan BBM. Sabtu, 24 Mei 2008 | 03:00 WIB Wisnu Aji Dewabrata Kehidupan petani kopi di Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, memang jauh dari kemiskinan, apalagi harga komoditas kopi di atas Rp 15.000 per kilogram, seperti saat ini. Namun, kenaikan harga kopi selalu diikuti lonjakan biaya produksi sehingga petani tidak banyak menikmati rezeki nomplok dari fluktuasi harga kopi di pasar internasional. Saat Kompas berkunjung ke sentra produksi kopi Pagar Alam beberapa waktu lalu, atmosfer kemakmuran dapat segera dirasakan. Berbagai jenis sepeda motor keluaran terbaru berseliweran di tengah kota ataupun di dusun-dusun. Telepon seluler seharga Rp 3 juta tampak menghiasi saku kemeja petani di tengah kebun kopi.
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 25 - 30 dari 52 |